Sepotong Senyuman Buat Kelinci

1549798611-picsay.jpg
Kelinci, warna bulunya putih, warna bola matanya pinky. Lucu. Asli. Membuatku ingin bersahabat dengannya.

Seekor kelinci duduk merenung di depan pintu. Aku berada tidak jauh darinya. Sehingga ku dapat melihat dengan jelas bagaimana perilakunya. Begitu juga dengan ekspresinya yang tidak luput dari perhatianku. Ya, sejak melihat sang kelinci, aku pun tertarik dengannya. Ketertarikan yang membuatku mendekat padanya.

Kelinci tersebut bertubuh kecil. Warna bulunya putih bersih. Saat ku coba menyentuhkan jemari di pundaknya, terasa lembut. Aku suka dengannya. Meski sesaat setelah ku mendekatkan tangan ke arah pundaknya, ia segera beranjak dan meloncat. Geraknya gesit. Ia berusaha menjauh dariku.

Hai, mungkin ia merasa terganggu oleh jemariku. Padahal aku tidak sedang mengganggunya.ย  Atau, karena kami belum berkenalan? Ah, tampaknya ia sedang menjaga diri, ini jelas. Apakah betul prediksi ku ini?

Secepatnya, kembali ku mengulurkan jemari ke arahnya, detik-detik berikutnya. Uluran yang ku berikan sebagai tanda perkenalan terhadapnya. Uluran yang ku arahkan padanya, dengan harapan ia menyambut dengan senang hati. Uluran yang ku berikan sekali lagi, agar ia merasa nyaman denganku. Uluran yang akhirnya mendekatkan kami selayak sahabat baru bertemu. Ini harapanku padanya.

Yap, pertemuan kami adalah untuk pertama kali. Pertemuan pertama dan aku belum mengerti bagaimana karakternya. Kecuali melihat penampilan dirinya yang menarik saja, maka aku mendekatinya. Tanpa ku tahu, bagaimana ia berpikir, tentangku.

Aku tidak berpikir terlalu jauh. Hanya mengikuti kata hatiku dan ku ingin kami berteman. Pertemanan sesama makhluk hidup. Meski kami tidak sejenis. Sebab ia adalah kelinci sedangkan aku manusia.

Walau pun demikian, ku yakin, pertemanan dapat terjalin antara kami. Hingga tahap persahabatan, ini memungkinkan. Keyakinan yang membawaku pada ingatan padanya, lagi. Tepat, sejak kami berjarak setelah bersama. Tepat, sejak ku kembali ke rutinitasku, di lokasi berbeda dan tidak lagi bisa dekat-dekat dengannya. Tepat, sejak ku mulai menyadari, bahwa kami berbeda.

Kelinci, ia terkenang olehku, saat ini. Kenangan atas perkenalan pertama kami yang tidak berlangsung sukses. Namun menyisakan sedikit rasa kurang baik di hatiku. Hati yang segera ku obati, semampuku. Atas sebab, sang kelinci menjauh dariku. Saat ku berusaha mendekatinya.

Hati yang pelan-pelan mau menerima kenyataan, untuk ia hadapi. Hati yang tersenyum, kemudian. Hati yang terus belajar tentang arti penolakan. Hati yang berhati-hati untuk memulai sebuah perkenalan, lagi. Hati yang mengajakku melanjutkan perjalanan dengan senyuman. Sebab akan ada penolakan penolakan selanjutnya, yang akan ia temui. Namun, untuk penerimaan, ia memang harus menerima penolakan demi penolakan dengan tegar. Hiyaa! Hingga penolakan demi penolakan tidak berarti apa-apa lagi, sebab sudah kebal dengannya. Artinya, tetap melanjutkan perjalanan dalam meneruskan misi, melangkah sampai nanti, nyawa tidak bersamai raga, ini.

Dalam perjalanan, akan ada yang meminta perkenalan juga, denganku. Maka, bermudahlah menerima, begini ku mengingatkan diri. Agar tidak banyak yang merasakan hal serupa dengan pengalaman yang telah ku alami, dengan kelinci putih tersebut.

***

Wahai, kelinci yang indah di mataku dan membuatku segera tersenyum pertama kali melihatmu.ย Senyuman yang kembali terukir mudah di pipiku, saat ini. Ketika ingatanku padamu, menepi. Senyuman yang ku persembahkan untukmu, kelinci putih nan lucu. Senyuman ini, buatmu. Semoga kelak kita kembali bertemu dalam suasana engkau masih mengenalku. Lalu kita bersapaan sebagai sahabat.[]

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Iklan

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s