Selamat Melanjutkan Perjalanan, Kawan

“Hari ini, kita harus berubah menjadi lebih baik dari kemarin. Adanya perubahan, untuk kebaikan. Siapa yang mau menerima dan menjalani perubahan, mengalami kemajuan sebagai konsekuensinya.”

Tidak mengapa, berjarak sementara, untuk kebersamaan lebih lama.ย 

Hendaknya melakukan sesuatu sepenuh hati, konsentrasi, jeli, teliti dan berhati-hati. Agar dalam prosesnya tidak terjadi banyak kesalahan. Semoga berhasil meski belum sempurna seutuhnya, tetap melanjutkan. Karena kesempurnaan sejati adalah milik-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala.

Hari ini ada yang mengoreksimu, terimalah. Lalu, jalankan sesuai petunjuk bagaimana semestinya. Semoga ke depannya lebih baik lagi.

Ingatlah engkau berharga, selagi masih ada yang memedulikanmu, mengingatkanmu saat lupa, menegurmu ketika tersalah, dan memperhatikan hasil pekerjaanmu. Dengan begitu, engkau semakin mengenal diri.

***

Hari ini kita bertemu. Pertemuan untuk perpisahan. Perpisahan sementara di dunia. Sebab engkau akan melanjutkan perjalananmu, kawan. Selamat melanjutkan perjalanan. Semoga selamat senantiasa menjadi teman danย bertemu teman seperjalanan yang menyenangkan.

Teman seperjalanan yang tidak hanya membersamaimu saat suka, namun juga kesedihan. Teman yang memahamimu lebih dari dirinya sendiri. Teman yang menghargaimu selayak dirinya. Teman yang tidak engkau jumpai dengan mudah, namun ada prosesnya. Ya, selamat menemukan, teman terbaik.

Melihat senyuman manismu yang engkau tebarkan untukku baru saja, aku terkenang. Terkenang bahwa seperti itu pula ekspresiku adanya, sesaat sebelum ku berjarak dengan keluarga. Pada awal-awal tahun 2016 yang lalu, aku punya kisah semirip dengan yang engkau jalani hari ini.

Yuup. Ketika itu, tetiba menderu gemuruh di ruang mataku. Sedangkan dadaku terasa lapang. Pikiranku ke mana-mana. Aku ingat pada hari-hari yang akan ku jelang, di sana.ย 

Hari-hariku akan jauh dari keluarga, tidak lagi sedepa. Hari yang menyisakan sejenis perasaan entah bagaimana menyebutnya. Yang ku tahu, rasa berbeda mulai ku alami sejak saat itu.

Aku mulai mengenal haru, arti rindu dan airmata. Aku pun mempelajarinya, bersama lambaian jemari yang terus menyapaku dari kejauhan. Sedangkan ingatanku terus memperpanjang jalannya menuju negeri yang ku sebut impian. Karena sangat jauh dari kenyataan. Makanya ku bertahan, selama di perantauan. Bertahan untuk tetap eksis dan hidup. Meski tidak makan seharian, walau tidak tidur semalaman. Sekalipun untuk esok, belum ada menu yang bisa ku makan.

Aku yakin, pasti ada jalan. Selalu begitu, senantiasa. Maka aku bangun, bangkit dan terus berjalan. Tidak henti merapal doa-doa di sepanjang langkah, memintal doa dari keluarga di rumah, untuk kesuksesanku selama di perantauan. Satu lagi yang penting, tidak lupa menebar senyuman. ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ˜†ย  ๐Ÿ˜‰ย 

Senyumanku terkadang pahit, manis, getir, dan bahkan asin saat ku icip pelan-pelan. Senyuman yang membuatku semakin peka dengan keadaan. Keadaan yang membuatku tidak mau menerima, sebelum melakukan sesuatu, apapun itu. Baik saat ku benar-benar memerlukan, atau bukan. Aku harus bekerja dulu, baru menerima imbalan. Aku mesti berjuang dulu, untuk mendapatkan kemenangan. Ini tekadku.

Pasti ada jalan, ku meyakinkan diri.ย 

Sepanjang hari, ada-ada saja yang mengajakku berseri-seri. Apakah kehadiran teman berikutnya sebagai anggota keluarga baru dalam kehidupanku, atau aku yang hadir menjadi bagian dari kehidupan teman-teman ku yang baru. Sehingga sebagai sesama perantau yang sedang menempuh masa pendidikan, sangat mudah terjalin keakraban. Apalagi, kami sebaya dan masih sangat senang mencoba hal-hal baru. Jadinya, segala halย  positif yang belum kami lakukan, kami coba.

Dari waktu ke waktu, hari-hari menjadi asyik nan menyenangkan.

Bagi kami, tidak perlu mewah dan mahal-mahal untuk menjalani hari yang asyik menyenangkan. Menjalani hobi dengan cara melanjutkan perjalanan merangkai tulisan pun menjadi hiburan terindah dalam hari-hariku. Aku melakukannya, bersama teman-teman seperjalanan. Aktivitas ini sungguh mengesankan. Terima kasih kawan, engkau sangat berjasa. Hargamu tidak ternilai mata uang. Karena engkau adalah titipan Tuhan untukku masih mau menebarkan senyum ini. Sekali lagi, terima kasih atas perkenalan, kebersamaan, dan ingatan berkepanjangan.

Walaupun kebersamaan kita tidak selalu dalam kenyataan, insyaAllah dalam ingatan, engkau bersemayam. Selamat melanjutkan perjalanan ini, semangat!

Senyuman saat ini pun ku menebarnya sangat ringan. Melakukannya dalam kenangan pada teman-teman terbaik yang masih dan selalu ku jaga ada.

Teman-teman yang memperkenalkan diri sepanjang waktu ku di perantauan, dulu. Teman-teman yang ku kenali, dari jauh. Teman-teman yang Allah pertemukan di jalan ini. Walau kami tidak dapat bersama-sama lagi sampai hari ini. Teman-teman yang semoga tetap melanjutkan langkah-langkahnya di sana, meski kami tidak selalu bersama. Teman-teman yang memberiku ide, meski sehuruf adanya. Teman-teman yang mengingatkanku untuk tetap bergerak, walau sakit ragaku. Teman-teman yang menghangatkan pikiran, lalu mengalirlah ide-ide segar untuk ku tuliskan. Teman-teman yang energik, simpatik, inspiratif, inovatif, sempurna.

Aku bahagia, akhirnya. Kebahagiaan yang tidak terjadi dalam waktu singkat.

Sebelumnya, aku sering menangis dalam kesedihan sesedih-sedihnya, sebelum menjumpa teman-teman yang mengajakku ceria dan bahagia. Aku pernah tenggelam dalam kemurungan terdalam, sebelum bersua para sahabat yang menyapaku ramah. Aku pernah hampir ‘mati’, padahal ragaku masih bernyawa sebelum ada yang mengajakku membersamainya meneruskan langkah. Aku bahkan tidak jarang mengalami koma, sebelum ku mengenal arti kehidupan yang sesungguhnya. Maka,….ย 

Untukmu teman. Wahai, sahabat yang saat ini baru memulai langkah, di sana.

Engkau yang memulai kehidupanmu di perantauan, untuk meneruskan pendidikan dan jauh dari keluarga. Ingat-ingat-ingat yaa, kepada beliau semua. Ingatlah keluarga, sebelum engkau melakukan apapun juga. Apalagi yang masih mempunyai orangtua lengkap, ayah dan bunda. Ingatlah tatapan harap mereka, untuk keberhasilanmu di sana. Ingatlah, untuk bergiat, supaya beliau bahagia dengan kesuksesanmu. Ingatlah untuk menyapa dalam berbagai kesempatan engkau rindu. Apabila tidak dapat menyapa karena kehabisan kuota atau pulsa, doa adalah panggilan terindah melalui-Nya.

Jangan sampai engkau lupa berdoa, ketika kelimpahan harga engkau punya. Semua adalah titipan untuk kemudahan hidupmu di sana. Berbagilah, dengan siapa saja. Terlebih penting teman-temanmu seperjuangan. Mereka adalah penyemangatmu untuk berprestasi. Bersama mereka, teman-teman seperjuangan, engkau dapat menjadi lebih baik dari dirimu sendiri. Dengan cara berkaca pada mereka, lalu engkau tersemangatkan untuk mengubah diri sendiri.

Sebagai tambahan, jangan lupa menuliskan impianmu. Impian yang dapat menjadi penambah amunisimu, dalam berbagai situasi. Tulis saja setinggi-tingginya impian. Catatlah di tengah kelamnya pikiran karena belum bertemu pencerahan. Catat impianmu saat hujan airmata menderas ke pangkuan. Catatlah impian, ketika senyuman mencerah di wajahmu, selayak mentari menyinari alam.

Mencatat impian adalah kebahagiaan yang engkau tabung untuk engkau nikmati hasilnya di masa depan. Tepat setelah impianmu menjadi kenyataan. Engkau dapat flashback, untuk menceritakan. Bagaimana engkau berproses bersama impianmu, hingga menjadiย  kenyataan. Nah, pada saat menceritakan tersebut, engkau sedang berbagi dengan sesiapapun, tentang perjalananmu.

Perjalanan panjang, tidak henti begitu saja, setelah engkau mencapai tujuan. Sebab, selagi masih di dunia, masih perjalanan, bukan?ย 

Hai, tidak ada yang tidak mungkin, bersama-Nya. Engkau mesti yakin dan percaya sungguh-sungguh. Sungguh sangat banyak jalan-jalannya. Perpanjangan jalan kebaikan senantiasa membentang. Dedaunan di ujung-ujung ranting, selalu hijau. Setelah tumbuh tunas baru, dan daun lama berguguran. Begitulah, engkau harus yakin dengan perubahan.

Perubahan mengajakmu membuka mata lagi, setelah mengatupkan. Untuk tersenyum, dalam tangisan. Untuk mencerah wajah, di tengah kesedihan. Untuk membahagiakan, engkau mesti berbahagia.

Memberilah, dengan hati, bukan untuk pencitraan. Baiklah dari dalam diri, bukan untuk mencari muka. Berbuatlah, karena engkau memang ingin melakukan, bukan atas perintah atau suruhan. Berhentilah, ketika sudah tidak waktunya rehat dari perjalanan. Selanjutnya, menikmati hasil bersama senyuman terindah dengan teman-teman seperjalanan.ย 

Harap, kelak kita kembali dipertemukan di tempat peristirahatan terakhir, yaa. Surga impian yang menyambut dengan kelembutan permadaninya, bening aliran sungai-sungai di bawahnya, sedangkan pemandangan kehijauan, membuat hati terus menyenandungkan nada-nada indah kebahagiaan. Di atas sana, bunga-bunga bermekaran, sedangkan wanginya menebar di sekitaran, dalam kehidupan yang abadi.

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Lambaian tanganmu hari ini, mengingatkanku pada teman-teman yang menantiku di sana...
Iklan

Ayo mengabadikan kisah persahabatan kita dalam tulisan ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s