Sebuah Kenangan Terhadapmu Saat Hujan

Hujan

Hujan

Hujan adalah salah satu inspirasi dalam menulis. Tetesannya yang ramai dapat menjadi ide yang mengguyur ingatan. Sehingga, saat hujan turun ke bumi, bangkitlah kawan. Bergeraklah, lalu melangkahkan jemari. Meski pada saat sama, kaki-kakimu tidak dapat turun ke jalan. Sebab takut kebasahan, kan?

Ah, iyakan saja teman. Bukankah selama ini engkau selalu saja beralasan, lagi hujan. Sehingga tidak jadi datang ke rumahku. Padahal kita sudah janjian.

Hai, mengaku saja. Agar tenang hatimu dan damai dalam pikiran. Supaya dapat menjalani aktivitas harian dengan kelegaan. Tanpa terusik lagi oleh suara-suaraku bersama pertanyaan.

Iya. Terkadang ku sempat kepikiran. Bagaimana bisa ya? Engkau memundurkan waktu untuk ketemuan. Padahal kita sudah lama tidak berjumpa. Sudah lewat sepekan, teman. Apakah padaku engkau tidak menyimpan kerinduan? Kalau aku? Iya. Makanya, ku menunggu kedatanganmu.

Aku sempat mengalami kekecewaan. Tepat saat jam demi jam terus berganti. Angkanya bertukar terasa cepat. Dan engkau mengabarkan, “Maaf yaa aku tidak jadi datang. Lagi turun hujan. Di sini lebat.”

“Mengapa tidak menembus hujan saja? Engkau bukan garam kan? Garam yang akan lebur setelah lama-lama tertimpa hujan,” pikiran sempitku mulai mencari-cari alasan. Sebab sangat besar harapanku agar kita bertemuan. Pikiran yang tidak ku sampaikan padamu, kecuali mengiyakan.

“Tidak mengapa. Setelah hujan reda saja. Atau lain kali pada kesempatan terbaik,” ku mengalirkan suara bersama senyuman sebagai jawaban untukmu.

Senyuman yang tidak akan pernah engkau perhatikan karena kita tidak berhadapan. Senyuman yang ku tata semanis mungkin supaya suaraku yang sampai padamu jelas terdengar. Senyuman di dalam hujan, bersama kerinduan.

Ujungnya, rinduku padamu tertunda sepekan kemudian. Sebab pada hari sama, hujan turun sangat lebat. Aku juga kasihan, kalau engkau hujan-hujanan, nanti kedinginan dan bisa sakit. Lagi pula, kita belum sepenuhnya akrab sebagai teman. Baru kenalan, sapa-sapaan, intinya dalam masa penjajakan.

Ku lipat harapan untuk menatap dua bola matamu yang teduh, kemudian. Selanjutnya merangkai senyuman demi senyuman dengan iringan suara hujan yang jatuh di atap. Tetesannya mewakili hatiku yang penuh kepiluan. Sebab harus menanggung beratnya rindu padamu, teman.

Sepanjang merangkai senyuman, aku mulai mendapatkan pencerahan. Senyuman yang awalnya berat mengembang di pipi ini, perlahan ringan. Senyuman yang semakin mudah ku tebarkan. Bola mataku pun tersenyum, tak hanya pipi. Dua baris alisku pun tersenyum bersama gerak jemari yang terus berlari.

Seraya masih tersenyuman, ingatanku padamu pun menepi. Aku mulai menikmati waktu sendiriku. Tanpamu yang semestinya ada di sisi.

Ya. Saat sendiri, ku bisa merangkai senyuman seperti ini. Kalau engkau jadi hadir, tentu senyuman ini tidak terbit. Sebab waktu yang sangat berharga ini akan kita pergunakan untuk bercengkerama, bukan?

Nah, hasilnya tentu tidak kelihatan. Selain pengalaman demi pengalaman yang engkau bagikan sepanjang kita bertukar hasil pikir. Ditambah pula ilmu-ilmu baru yang mudah saja engkau titipkan padaku, sebab engkau memang mudah berbagi.

Nah, saat ini, tersenyumku memang sendiri. Setelah engkau selesai mengabariku, lalu suaramu tidak terdengar lagi olehku.

Suara-suaramu yang ku cermati, ku teliti lagi, kemudian menjadikan sebagai inspirasi. Suara yang tidak tenggelam oleh derasnya suara hujan. Sebab suaramu berasal dari dalam hati.

Benar, engkau sungguh-sungguh dan tidak hanya beralasan. Ketidakhadiranmu memang karena keadaan tidak memungkinkan. Dan engkau tidak mau memaksakan diri. Sebab engkau sangat menyayangiku.

Engkau tidak mau aku mencemaskanmu yang melanjutkan perjalanan di bawah hujan. Engkau mau aku tenang dan tetap di sini, menikmati waktuku. Engkau mau menjagaku dan dirimu dengan sebaik-baiknya. Engkau mau ku mengerti sebelum engkau memberiku pengertian lebih. Engkau mau ku memahamimu, maka ku harus memahami diriku terlebih dahulu. Makanya aku tetap di sini dan engkau tetap di sana. Sedangkan hujan yang turun membasahi alam, menjadi saksi. Bahwa pertemuan kita tetap berlangsung walau tidak berhadapan.

Di dalam hati, kita saling menenangkan. Dalam ingatan, kita terus berbagi senyuman. Dalam kenyataan, alam memberi kita pelajaran tentang kesabaran.

Bersabarlah, sebab tidak semua ingin diri dapat terealisasi. Ada waktunya, kita mengucap syukur atas keadaan yang kita alami, sebab ada hikmah tersembunyi di dalamnya. Supaya kita ingat bahwa dibalik rencana kita, ada rencana-Nya yang murni. Maka mengembalikan ingatan kepada Allah Yang Maha Menentukan segala sesuatu pantas atau tidak pantas kita jalani, dapat menenteramkan hati. Lalu senyuman pun mengembang di pipi.

Senyuman yang kita bagi, untuk diri sendiri, awalnya. Dengan demikian, hidup ini terasa nikmat saat menjalani. Rasanya sejuk. Seperti tetesan hujan yang turun setelah mentari bersinar terik.[]

😊😊😊

Iklan